50 tahun Green Hilton Agreement antara Presiden Soekarno dan Presiden JF Kennedy

suryasyam:

Masalah ini harus terus di usahakan untuk mendapatkan kembali harta rakyat pemerintah indonesia ini .

Originally posted on Bayt al-Hikmah Institute:

Tanggal 14 November 2013 genap 50 tahun usia perjanjian “keramat” antara Presiden Indonesia Soekarno dengan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Perjanjian dikenal dengan nama “Green Hilton Memorial Agreement.” Inti perjanjian ini bahwa Amerika Serikat mengakui adanya aset bangsa Indonesia tetapi mengabaikan pengembaliannya. Mereka sepakat gunakan pagu nilai dalam perjanjian saat itu adalah emas setara 57 ribu ton.

View original 1.985 more words

Negara minus tokoh pemimpin

bung-karno

Negara yang terhampar didua samudra  luas , Hindia dan Pasifik  ini  memproklamirkan kemerdekaannya sejak 68 th yg lalu. Telah cukup banyak makan asam garam politik dan pemerintahan  . Mulai dari sistem pemerintahan parlementer multi partai  sampai sistem pemerintahan presidentil dengan partai terbatas ..Mulai dari demokrasi murni sampai demokrasi terpimpin .Sampai sekarang tetap saja tidak dapat menemukan sistem pemerintahan dan demokrasi yang tepat buat negeri ini .Tokoh partai saling cakar2-an. Partai2 yang ada kehilangan rohnya . Kehilangan daya tarik , daya pikatnya  bagi rakyat. Sehingga kaum muda golongan pemilih terbanyak maupun golongan tua tak sudi melihat partai yang ada. Pemilu yang akan diadakan April 2014 mendatang masih menjadi tanda tanya besar akan keberlangsungan dan keberhasilannya . Terlalu banyak masalah yg crusial yang terjadi .Semua bertindak untuk kepentingannya sendiri sendiri . Mereka memikirkan golongannya sendiri bukan kepentingan seluruh rakyat yang ada .Tak ada tokoh yang tampil yang mampu mengatasi persoalan yang ada .Negeri ini kehilangan tokoh pemimpin. Negeri ini dapat disebut negeri badut . Negeri dimana ocehan2 pejabatnya , para politikusnya  menggelikan dan memalukan . Dan juga tepat kalau disebut pejabat , politikus bermuka badak . Pejabat politikus Nato ( no action talk only).Sangat mahir dalam bersilat lidah  dan berdebat .   Tak ada tokoh  pemimpin yang mampu mengatasi persoalan kenegaraan yang ada . Dan sekarang menjelang  pemilu 2014 ini  dari muka2 partai yang ada , tak terlihat ada yang mungkin menjadi tokoh pemimpin yang diharapkan . Sedangkan negeri ini menurut UU yang berlaku hanya memilih presiden dari tokoh2 yang diajukan partai politik .Tak ada kesempatan buat calon independen untuk menjadi tokoh pemimpin/Presiden . Masihkah  rakyat  negeri ini akan tersiksa dan menderita lagi karena tidak punya tokoh pemimpin yang handal ? Silakan anda jawab sendiri .

Gelar Ratu Milik Atut Chosiyah Digugat

Image

Oleh Yandhi Deslatama

Liputan6.com, Serang : Nama Ratu yang disandang Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dipersoalkan. Menurut Sultan Fathul Adzim, keturunan Sultan Maulana Hasanudin, sampai keturuan ke-12 tidak tercantum silsilah keluarga Ratu Atut Chosiyah.

“H. Hasan Sohib bukan Tubagus (Tb). Bisa saya jelaskan di sini bahwa gelar Tubagus itu gelar keturunan. Setiap keturunan anak maupun cucu Sultan Hasanudin dari garis laki-laki menggunakan gelar Tubagus, kalau perempuan pakai ratu. Nah, dari situ mungkin kita bisa memahami, siapa Atut yang dikenal ratu dari segala ratu,” tutur Fathul Adzim di Serang, Senin (23/12/2013).

Menurut Fathul Adzim, sejak tanah Banten dikuasai oleh Sultan Maulana Hasanudin, sebagai penerus Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Cirebon, gelar ratu hanya diberikan kepada perempuan keturunan langsung dari Sultan Banten.

Gelar-gelar ratu yang disandang oleh Ratu Atut Chosiyah itu didapat dari penghargaan dari Yayasan Kartini pada tanggal 21 April 1998 di Hotel Sultan. Gelar ratu disematkan kepadanya karena di anggap mengangkat harkat martabat perempuan dan aktif sebagai pejuang gender.

Namun keterangan Sultan fathul Adzim itu dibantah kerabat Ratu Atut yang juga seorang jawara di Banten Udin Safarudin. Menurut dia, Ratu Atut merupakan keturunan Kesultanan Banten. Dia menyatakan pernyataan Sultan Fathul Adzim keliru.

Silsilah keluarga Ratu Atut bermula dari Sultan Ageng Tirtayasa, Eyang Marta, Eyang Komara, Tb Chasan, Tb Ahmad, Tb Syafiudin, Tb Rayi, dan Tb Chasan Schohib. “Ratu Atut anak Tb Chasan Schohib,” tutur Safarudin.

Udin Safarudin bahkan menuding Sultan Fathul Adzim sebagai sultan palsu. “Soal pernyataan Sultan Fatul Adzim adalah pernyataan keliru, hanya ungkapan asal bunyi (asbun) mencari sensasi. Sultan Fatul adzim adalah Sultan Banten itu saya jamin 100 % palsu dan tudingan terhadap Ratu Atut palsu adalah itu asbun, hanya kedendaman pribadi,” tutur dia.

Dia juga menyatakan gelar ratu yang tersemat pada nama Ratu Atut Chosiyah itu asli. “Maka saya sebagai tetangga kampung dengan Ibu Ratu Atut, menjamin 100 % kebenarannya sebagai Ratu yang diperoleh dari Ratu Atut Chosiyah bin H Tubagus Chasan bin H. Tubagus Sochib bin H Tubagus Rayi,” ujar Safarudin. (Eks/Riz)